Wednesday, October 5, 2011

Teka-teki Keberadaan Laut di Pluto

NASA/JPL/CALTECH Ilustrasi Pluto dan Matahari.

Para ilmuwan sampai saat ini masih bertanya-tanya apakah Pluto memiliki lautan. Pasalnya, temperatur permukaan planet terjauh dari Bumi itu berada di kisaran minus 230 derajat celsius. Namun, analisis menunjukkan kemungkinan adanya lautan di sana.

Guillaume Robuchon dan Francis Nimmo, keduanya ilmuwan dari University of California, Santa Cruz, AS, mengungkapkan teori bahwa keberadaan lautan bergantung pada dua faktor, yakni jumlah potasium radioaktif dalam inti Pluto dan temperatur es yang menyelubunginya.
Pengukuran kepadatan planet itu menunjukkan, inti planet yang berupa batuan mengisi 40 persen volume Pluto. Apabila inti planet itu juga mengandung konsentrasi potasium sebanyak 75 part per miliar, peluruhannya dapat menghasilkan panas yang dapat mencairkan lapisan es yang menutupi serta menghasilkan campuran nitrogen dan air.
Panas dari inti Pluto akan memicu konveksi es di sekitarnya. Namun, apabila es bergolak terlalu cepat, panas tersebut akan terlepas ke ruang angkasa sebelum dapat melelehkan lebih banyak lapisan es. Sementara jika lapisan es yang mulai mencair itu bergerak lebih lambat dibandingkan gletser Antartika di bumi maka lapisan es setebal 165 kilometer di permukaan Pluto dapat melindungi lautan dengan kedalaman yang sama di bawahnya. Demikian kesimpulan yang disampaikan para ilmuwan.
Tingkat viskositas es sangat bergantung pada partikel-partikel es yang ada, di mana partikel yang berukuran kecil akan lebih mudah mengapung di permukaan yang cair. Meskipun begitu, sulit untuk mengukur kondisi ini dari Bumi. Namun, bentuk Pluto dapat memberi petunjuk mengenai keberadaan lautan di planet itu.
"Sangat menarik untuk mengungkap adanya potensi astrobiologis di planet muda ini," kata Alan Stern, ilmuwan senior New Horizons, seperti dilansir Daily Galaxy. (

Benda Langit Ditemukan, Asteroid yang Berisiko Hantam Bumi

NASA Asteroid Mathilde 253 berukuran 59 x 47 km yang direkam pada 27 Juni 1997.

NASA telah mengidentifikasi 90 persen asteroid raksasa yang berisiko menghantam Bumi, termasuk satu asteroid yang diperkirakan bisa menyebabkan bencana seperti yang menyebabkan kepunahan dinosaurus.
Meski demikian, ternyata tidak ada satu pun dari asteroid tersebut yang membahayakan Bumi dalam beberapa abad ke depan. "Kita sekarang tahu di mana mereka dan ke mana mereka pergi. Ini benar-benar mengurangi risiko kita untuk dihantam," kata Amy Mainser dari Jet Propulsion Laboratory NASA di Pasadena dalam konferensi pers, Kamis (29/9/2011).
Salah satu asteroid raksasa yang terbesar memiliki diameter 1.000 meter. Jumlah asteroid raksasa yang ditemukan ada 911 buah dari 981 buah yang diperkirakan ada.
Selain berhasil mengidentifikasi 90 persen asteroid raksasa, NASA juga berhasil mengetahui bahwa asteroid-asteroid berukuran sedang berjumlah 44 persen lebih sedikit dari yang diperkirakan. Ilmuwan belum menemukan asteroid sedang yang bisa menghancurkan kota metropolitan. Meski demikian, ditegaskan bahwa lebih sedikit bukan berarti tak ada ancaman. "Lebih sedikit bukan berarti tidak ada. Masih banyak yang harus ditemukan di luar sana," kata Mainser seperti dikutip AP.
Sebelumnya diperkirakan ada sekitar 30.000 asteroid ukuran sedang. Namun, perhitungan terakhir hanya mendapati sekitar 19.500 asteroid. Jumlah asteroid dengan ukuran diameter 100-1.000 meter yang telah ditemukan saat ini ada 5.200 buah.
Informasi terbaru mengenai jumlah asteroid ini berasal dari hasil observasi wahana antariksa Wide-field Infrared Survey Explorer (WISE) yang diluncurkan pada 2009. Wahana antariksa ini bertugas mencari obyek dekat Bumi, galaksi, bintang, dan obyek target kosmos lainnya. Tak seperti wahana antariksa lainnya, WISE bisa mendeteksi obyek gelap dan terang sehingga bisa memberikan data lebih akurat.
WISE mengambil sampel asteroid dengan berbagai ukuran, lalu memperkirakan jumlah populasi yang ada sebenarnya. WISE tidak dilengkapi dengan perangkat pendeteksi jutaan asteroid ukuran mini yang berpotensi menghantam Bumi.
Saat ini, WISE sedang ada dalam kondisi "hibernasi" atau tak beraktivitas mendeteksi obyek dekat Bumi apa pun. Dengan keberhasilan mengidentifikasi asteroid ini, NASA berhasil mencapai target yang ditetapkan kongres pada 1998. Saat ini, NASA menyusun target untuk menemukan 90 persen dari asteroid-asteroid yang ada yang berukuran sekitar 150 meter. Dikatakan, proyek ini sudah berjalan 35 persen.

Bangkai Satelit Kembali Hunjam Bumi Awal November

Satelit ROSAT.

Ancaman hunjaman satelit yang telah dinonfungsikan belum selesai. Awal November mendatang Roentgen Satellite atau ROSAT German X Ray Space Observatory akan menghunjam bumi.
Demikian keterangan German Aerospace Center seperti dipublikasikan Space.com, Kamis (29/9/2011). Orbit satelit berbobot 2,4 ton tersebut antara 53 derajat lintang utara dan 53 derajat lintang selatan. Dengan demikian, lokasi potensial jatuhnya satelit pada rentang Kanada hingga Amerika Selatan meski belum bisa ditentukan dengan pasti.
Menurut perkiraan, ada 30 kepingan raksasa satelit yang akan menghunjam Bumi. Dari total bobot 2,4 ton, sebanyak 1,6 ton akan tahan dari gesekan atmosfer yang biasanya akan membakar komponen satelit.
”Secara umum, ketika satelit memasuki bumi, 20-40 persen dari massanya akan mencapai permukaan Bumi. Untuk kasus ROSAT mungkin akan lebih besar karena punya struktur cermin tahan panas,” kata Heiner Klinkrad, Kepala Space Debris Office di European Space Agency (ESA).
Klinkard melanjutkan, tidak mungkin saat ini untuk memastikan di mana dan kapan satelit akan jatuh sebelum satu atau dua jam saat memasuki batas gravitasi. Namun, dipastikan kepingan sampah terbesar adalah struktur cermin tahan panas.
ROSAT adalah satelit yang diluncurkan pada tahun 1998 dan merupakan pelacak bintang yang gagal. Kameranya secara langsung menghadap Matahari sehingga mengalami kerusakan. ROSAT secara resmi dinonfungsikan pada tahun 1999.
Jatuhnya ROSAT menambah daftar sampah antariksa yang masuk ke Bumi. Minggu lalu, satelit UARS milik NASA jatuh di pantai wilayah Pasifik. Diperkirakan akan ada banyak lagi sampah antariksa yang jatuh ke Bumi akibat belum adanya manajemen pengelolaan sampah antariksa ini.

Benarkah Ada Satu Planet Lagi di Tata Surya?

NASA

Sistem tata surya kita diduga memiliki satu planet gas lagi. Hal ini diungkapkan oleh David Nesvorny dari Colorado Southwest Research Institute. Menurutnya, tata surya sekarang tidak mungkin tercipta tanpa ada satu planet lagi karena planet yang lain akan bertabrakan saat proses pembentukan.></a>
"Tanpa ada satu planet gas itu, planet yang lain akan tarik-menarik dan mengakibatkannya keluar dari orbit, bahkan bertabrakan," jelas David.
David mengadakan simulasi secara sederhana dengan mencoba berbagai orbit yang memungkinkan. Masalahnya berawal dari asumsi di mana planet gas yang ada, seperti Yupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus, sangatlah besar sehingga secara otomatis mereka akan merobek satu sama lain saat terjadi pembentukan. Menurut David, sistem tata surya sekarang memiliki probabilitas yang amat kecil untuk bisa tercipta.
Setelah David menambahkan planet gas kelima dalam simulasinya, ada keanehan yang muncul di dalam tata surya kita. "Keanehan ini tentu menunjukkan bahwa tata surya tidak begini, bisa saja teori saya salah. Akan tetapi, jika simulasi komputer mengatakan hal yang berbeda, maka ada kemungkinan," papar David.
David berpendapat bahwa planet gas ini merupakan es raksasa dengan massa dan komposisi yang sama dengan Neptunus serta Uranus. Penemuan terbaru lainnya mendukung teori ini, tetapi planet tersebut telah keluar dari tata surya karena tolakan gravitasi yang kuat. Dengan begitu, diperkirakan planet tambahan ini berada di Galaksi Bima Sakti dengan perjalanannya yang panjang.

Hadiri Pameran Karya Pemenang E-idea

E-Idea (British Council, LRQA) Konsep Cyclus karya Satoshi Yanagisawa, salah satu pemenang E-Idea dari Jepang.
 Para pemenang kompetisi E-Idea yang diselenggarakan British Council akan melakukan pameran hasil penelitian mereka. Selama satu hari penuh, 40 hasil penelitian dari 7 negara yang memenangkan kompetisi E-Idea di negara masing-masing ini akan dipamerkan di Jakarta. Pameran terbuka untuk umum sejak pukul 08.00 hingga 20.00 WIB di Hotel Shangrila, Jakarta, Rabu (5/10/2011).
Karya pemenang E-Idea dari Indonesia yang akan dipamerkan adalah Konversi Tabung Gas untuk Angkot oleh Aria Widyanto, Teknologi Blue Heart Ocean oleh Nugroho Wiratama, Sepeda Ramah Lingkungan Serba Guna oleh Gustinov Briliant Aji, Rehabilitasi Lahan Pertanian oleh Anton Abdul Fatah, Kampanye Diet Kantong Plastik oleh Vanessa Letizia, Serat Kelapa untuk Medium Revegetasi Lahan Bekas Tambah oleh Arif Nugroho, Teknologi Memadamkan dan Menyalakan Listrik Lewat SMS oleh Alfadho, dan Green Flame oleh Ahmed Tessario.
Karya pemenang E-Idea dari Australia adalah Origami Farms oleh Stephen Mushin, Lampu Medis Bertenaga Matahari oleh Michael O'Brien, Electric Postie Bikes oleh Will Wansey, dan Sustainable Design oleh Nerida Lennon.
Karya pemenang E-Idea dari China adalah Kantong Belanja yang Bisa Digunakan Berkali-kali oleh Zhang Chao, Fashion Daur Ulang A Bu oleh Shi Yanhong, V-Roof oleh Huang Ke, Boneka Kaus Kaku Bu San Bu oleh Chen Li, Konsep Festival Musik Lingkungan Tianjin oleh Wang Xuan, dan Re-Light oleh Yu Jia.
Karya pemenang E-Idea dari Jepang adalah proyek Kerjasama Kuda dengan Manusia oleh Tatsunori Kikuchi, Cyclus oleh Satosi Yanagisawa, Jelajah Sawah dengan Sagways oleh Taishi Azuma, Tie for Change oleh Hiromi Morimoto, Energy Literacy Platform oleh Suichi Isibashi, dan Sekolah Seni FunFam oleh Tsuneyoki Fujioka.
Karya pemenang E-Idea dari Korea adalah Tempat Sampah Tenaga Surya oleh Seungjae Lee, Green-Agriventure oleh Yisheul Shin, Eco-Habit Project untuk Pelajar oleh Hyosun Kang, konsep Taman Bermain Ramah Lingkungan oleh Kibeom Park, Penyangga Buku dari Gantungan Baju Besi oleh Jihong Yeom, dan Rebirth Project Jinhwa Kim.
Karya pemenang E-Idea dari Thailand adalah konsep Cara Mudah Hidup Hijau oleh Chontira Thipaksorn, Konsep Pertanian oleh Kanadej Thamanoonragsa, Pemilahan Sampah dan Daur Ulang Biowaste oleh Jantima Pipit Soontorn, Pemanas Kreatif untuk Papan Partikel oleh Saengabha Srisopaporn, Pupuk Organik oleh Khwankhao Sinhaseni, dan Konsep Memancing Oksigen dengan Spesies Antagonis Trichoderma pada Hutan Bakau oleh Sudarat Chomroong.
Karya pemenang E-Idea dari Vietnam adalah konsep Membuat Kompos di Rumah oleh Dao Huu Binh, Excavatus oleh Vu Tu Nam, Green Health oleh Nguyen Thi Ngoc Anh, Daur Ulang Sampah Sekolah untuk Menghijaukan Bangunan, konsep Organic Agriculture Forum oleh Pham Nhu Trang, Taman Vertikal oleh Nguyen van Quy.